Langsung ke konten utama

Postingan

Trayek Baru

sumber: mydirtsheet.com Trayek hidupku sudah jelas selama lebih dari sepuluh tahun ini. Jam tiga pagi, sebelum ayam-ayam tetangga di kandangnya bangun, aku sudah harus mandi, bukan untuk membersihkan tubuhku yang bau keringat karena tidur di dalam kamar pengap semalaman, tapi lebih untuk menyegarkan tubuhku, terutama mataku yang setiap hari tampaknya semakin kelelahan karena hanya diberi jatah untuk tidur tidak lebih dari lima jam. Setelah mandi dan mematut diri ala kadarnya di depan cermin yang sudah mulai buram, aku pergi ke pasar yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumhaku. Bukan rumah, kurang layak sepertinya jika disebut rumah. Kata orang-orang pintar, rumah itu harus punya kamar mandi, kamar tidur, ruang tamu, dapur, nomor dan yang paling utama harus punya surat yang menerangkan kalau itu adalah rumah sehingga pemerintah bisa menagih jatahnya setiap tahun agar ‘rumah’ itu bisa tetap disebut rumah. Sedangkan tempat yang aku tinggali -memang- hampir memiliki sem...

Review Tulisan “Biar Aku yang Berjuang” Karya Ciani Limaran

Satu kata yang terlintas dalam kepala saya saat selesai membaca tulisan ini,’padat’. Penulis menyajikan sebuah alur dengan sangat baik, menembak langsung ke arah konflik yang membuat pembaca seketika merasa masuk ke dalam cerita sekaligus merasa peanasaran dengan masalah yang dialami tokoh. Paragraf pembuka, “Hening malam membuat suara tubuhku yang berdebam terdengar jelas. Semoga saja ini tidak memancing orang-orang untuk keluar rumah dan menuju sumber suara. Semoga saja lelap tidur mereka hingga suara sekeras apapun tidak mampu mengusik.” Terasa cukup kuat untuk mewakili suasana awal. Pembaca tergiring pada dua kemungkinan, tokoh adalah maling atau bisa juga orang yang mencoba melarikan diri. Selanjutnya, siapa yang menyangka jika tokoh yang diceritakan adalah seorang istri yang saya rasa bekerja sampingan sebagai ‘wanita panggilan’. Kesan itu terasa dari beberapa petunjuk yang diberikan penulis seperti, ”Ibu jari kanannya menghapus warna merah menggoda yang tertempel di...

Review Cerpen “Cerita Pilu Seorang Gadis yang Tinggal di Kaki Gunung” Karya Sri Wahyuni

Sebuah karya dengan awalan yang luar biasa, deskripsi ruang disajikan secara bergerak. Ini sangat kuat, karena bisa mengajak pembaca untuk ikut masuk dan merasakan suasana dalam cerita (Dan Brown dan Andrea Hirata sering sekali menggunakan metode deskripsi seperti ini). Lalu kita diajak mengenal satu persatu bagian wilayah ini, sekaligus suasana di sekitarnya. Namun, sayang sekali beberapa bagian yang diceritakan di bagian awal hanya berfungsi sebagai penghias karena pada bagian selanjutnya tidak memiliki keterkaitan dengan sama sekali. Pada bagian tengah kita akan diajak berkenalan dengan tokoh sentral dalam cerita ini, seorang gadis remaja berusia sekitar dua puluh tahun yang memiliki ‘kelainan’mendekati gila. Yang selalu berdiri di halaman rumahnya dan tersenyum pada setiap orang yang melintas. Bagian tengah ini cukup menarik karena menyajikan sebuah fenomena yang unik dan jarang ditemui dalam kebanyakan cerita. Tapi sayangnya, sekali lagi, penulis tidak mengeksekusi ba...

Janedou

Sumber: rebloggy.com Dua belas lantai, melawan gravitasi dengan tubuhnya yang ringkih itu, bukan perkara mudah. Debam pertama saat menyentuh kanopi lalu diususul debam kedua yang diiringi retukan suara kaca. Aku yakin sekali, setidaknya empat tulang rusuk patah atau ada kulit perut yang koyak. Di atas genangan darahnya sendiri tubuh itu sempat kejang beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar diam. Suasana waktu itu masih terlalu pagi, terlalu hening. Tak ada satu orang pun yang hadir di sana waktu itu. Beberapa jam kemudian, menjelang fajar, barulah orang-orang heboh. Mayat seorang gadis muda dengan rambut kecoklatan terbaring di trotoar. Tak ada yang menangisi kematiannya, tak ada doa yang menangisi kepergiannya. Hanya beberapa orang polisi yang sibuk mensterilkan tempat kejadian dan makian pemilik mobil yang atapnya hancur ditimpa tubuh wanita muda tersebut. “Bahkan saat kematianmu pun masih menyusahkan orang lain, dasar gadis sundal.” Makinya. Perih sekali ak...

Kunang-kunang di New York

                 Patty mulai khawatir, ini sudah ketukan ketiga kalinya. Hampir sia-sia. Sejauh ini yang dia harapkan hanya wajah Tom yang jenaka tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil menyapa, “Kamu terlihat pucat malam ini, Sayang. Kamu pasti terlalu lelah bekerja.” Itu saja.                 Setelah pertengkaran hebatnya dengan Tom saat gladi resik tadi siang, yang dia harapkan saat ini hanya wajah Tom, tidak lebih. Banyak orang tidak mengetahui kalau Patty, seorang pemain opera paling terkenal di New York yang kecantikannya mampu melelehkan hati seorang Baron, tidak pernah bisa melepaskan cintanya dariTom, seorang penulis yang baru saja melahirkan novel perdananya dan menjadi best seller lalu menjadi buah bibir di seluruh pelosok negeri.                 Dia ketuk beberapa kali lagi...

Pangilan I: Si Jenius

       Dan malam ini ―tidak seperti malam-malam yang lain― sebuah pengakuan harus dirampungkan, sebab kalau tidak, maka tak ada satu orang pun yang sanggup melakukannya kecuali diriku. Dunia harus mengenang ―setidaknya― jika mereka tidak ingin mencatatnya. Ada sebuah siklus yang memang terus- menerus terjadi dalam kehidupan manusia, di luar kelahiran dan kematian. Keajaiban memang ada dan terus terjadi, entah disadari atau tidak.                 Di hadapanku ―malam ini― kursor pada layar komputer jinjing terus saja berkedip seolah meminta pengakuan yang lantang. Sepuluh halaman pertama selesai, tanpa jeda. Dua gelas kopi sudah tandas tinggal ampas. Selalu saja ada yang memaksaku, mengganggu, mengajak untuk terus-menerus menguras isi benak. Mengurai jalinan memori dalam saraf yang mulai awut-awutan tergerus waktu.             ...

Liontin

sumber: bangka.tribunnews.com “Yang sedang kupikirkan bukanlah aku mau membunuh atau tidak,”kataku sambil menarik pelatuk dan mengarahkan laras pistolku ke anak beranak yang sedang saling berpelukan itu, “Tapi siapa yang harus aku bunuh terlebih dulu.” Aku menyeringai puas, ketakutan yang terpancar dari wajah mereka semakin menjadi. Aku benar-benar menikmatinya. “Jangan bunuh kami.” Iba si ibu sambil melepaskan pelukan anaknya dan berlutut memohon kepadaku. “Sebutkan alasan yang bisa mengurungkan niatku.” Si anak semakin keras tangisnya. Si ibu menatapku lekat-lekat, tatapannya seperti ingin menerobos benteng terakhirku agar mau mengurungkan niat untuk membunuh mereka. Sudah terlalu terlambat. Uang muka sudah aku terima.  Perlahan jari telunjukku mulai menarik picu. Jarak laras senapan hanya dua puluh sentimeter dari kening si ibu. Tidak mungkin meleset menembak dari jarak seperti ini. Aku semakin dalam menarik picu, beberapa milimeter lagi timah pa...