Langsung ke konten utama

Postingan

Wejangan Si Kecoa

Pagi-pagi sekali seisi rumah sudah ribut. Kepalaku masih pusing karena tidur yang belum lengkap. Terjadi pertengkaran hebat antara Si Gajah dan Pengharum Ruangan, mereka beradu argumen tentang siapa yang paling banyak pengalaman.
Si Gajah yang usianya setua bumi berargumen kalau dia sudah sering melihat beragam peradaban jatuh bangun, dilesakkan ke dalam bumi, melihat laut terbelah, bertemu orang-orang suci sepanjang zaman berkali-kali melihat hutan terbakar. Sementara Si Pengharum ruangan tidak mau kalah, dia bercerita kalau dirinya pernah berkeliling dunia bersama sampah-sampah di samudera, terjerat jaring nelayan, dikuliti tubuhnya di Swedia, jadi sparepart mobil di Jepang sampai akhirnya afkir dan jadi barang rongsokan yang kubeli di tukang loak.
“Tapi kau tidak pernah sebegitu diinginkan seperti aku, kan?” kata Si Gajah dengan nada berseloroh. “Lihat gadingku ini. Harganya puluhan juta.”
“Kamu pernagh tersangkut di  tepian Antartika?” tanya Si Pengharum ruangan.
“Tentu saja tidak, m…
Postingan terbaru

Si Gajah Mengungsi

Suatu malam Si Gajah Terbang sahabatku datang dengan tergopoh-gopoh sambil membawa jerami dan dedaunan kering yang diikatkan ke tubuhnya yang tambun. Aku heran, tapi melihat dari mimik wajahnya membuat aku urung untuk menanyakan perihal kedatangannya. Aku melanjutkan obrolanku dengan Si Kecoa yang menceritakan tentang anak-anaknya yang tersebar di hampir seluruh Jakarta sambil ekor mataku tetap mengawasi gerak-gerik si gajah.
Si Gajah mengambil posisi di sudut untuk meletakkan barang bawaannya. Aku heran juga, biasanya dia datang tidak membawa apa-apa. Saat dia mulai duduk di atas sofa di seberangku, iseng aku bertanya.
“Mau pindahan?” tanyaku sambil mengangkat gelas kopi di atas meja.
Si gajah diam saja. Si kecoa yang yang sedari tadi juga ikut menyaksikan tingkah Si Gajah juga mulai penasaran.
“Ada apa, Kawan?“ tanyanya.
Wajah si gajah terlihat sendu. Warna kulitnya yang abu-abu terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Apakah kamu membaca berita belakangan ini?” tanyanya tiba-tiba. Aku dan Si…

Igau

Kataku suatu ketika, "Rindu itu letih, liar, kejam tapi tak sekuat maut. Ia tak pernah bisa dituntaskan, pun dengan sebuah pertemuan, karena sejatinya rindu itu seperti biji semangka yang kau tanam dalam hati, mengakar dan sulurnya membelit perasaan."Tapi apa mau dikata, walau tak kan pernah tuntas tapi kini aku terbang pagi buta naik garuda rindu menembus mega-mega. Naik ke langit dan menyaksikan Kapuas yang liar membelit tanahmu."Sekejap lagi," bisikku pada jendela sempit temanku yang menemani sepagian ini.Dalam bayanganku aku berkhayal, pesawat yang kutumpangi mendarat di atas sebuah menara keemasan, Tower of Babel, tangga yang membuat Tuhan murka dan mengutuk manusia dengan rupa-rupa bahasa.Jujur saja, aku butuh bahasa itu sekarang, bahasa yang selalu gagal diucapkan manusia, bahasa yang bisa merangkum semua perasaan tanpa tedeng aling-aling.Sebuah bahasa rindu yang tidak cengeng, bahasa pengunkap kesedihan dan kesepian tanpa harus menerbitkan air mata.Aku butu…

Uncle Ik Berbagi Tips Fiksi-Awalan

Jika Anda dihadapkan pada dua pilihan: saya ceritakan tentang sebuah masakan paling enak yang baru saja saya santap di sebuah restoran yang merupakan  bagian dari hotel bintang lima di daerah sekitaran Lapangan Banteng atau saya langsung bawakan masakan tersebut ke hadapan Anda agar Anda dapat merasakannya. Mana yang akan Anda pilih? Tak perlu dijawab sekarang.
Dua bulan lalu saya baru jalan-jalan ke daerah Puncak, Bogor. Anda tahu apa yang saya dapatkan selama jalan-jalan di sana? Hawa sejuk yang hampir mustahil bisa saya dapatkan di Jakarta, kota asal saya. Sambil menikmati segelas bajigur panas, saya merokok di atas sebuh kursi yang langusung menghadap ke area perkebunan teh yang menurun berbukit-bukit. Anda mau saya teruskan pengalaman saya, atau lebih suka jika saya memberikan ongkos agar Anda bisa menikmatinya secara langsung. Tidak perlu dijawab. Hampir seratus persen orang-orang selalu memilih opsi kedua.
Suatu ketika saat saya mengisi sebuah pelatihan menulis, di awal sesi, say…

Sepatu Coklat Tua

Bukankah ini menyenangkan? Langit penuh jelaga, udara berbau mesiu dan tanah basah oleh darah. Serdadu mengaduh sendu, nafas di ujung leher, lupa akan doa-doa dan janji akhirat. Tuhan masih jauh. Tuhan masih jauh. Tuhan masih jauh.
Aku dorong-dorong gerobak yang berisi jasadku, di ujung tanjakan sebelum jalan bercabang menuju Maginot dan akhirat, kuparkirkan gerobak di sisi jalan yang sedikit berbatu. Sambil bersandar di roda gerobak yang kini tidak bulat utuh lagi, kurogoh saku kiri baju. Basah, di bagian ini ternyata aku tertembak, pantas saja aku meregang nyawa sebegitu cepat.
Foto keluarga; aku semasa hidup, istriku yang berambut warna tembaga tersenyum sambil memegang bahu si bungsu. Kabar mereka sekarang buram, seburam nasib bangsa ini. Si sulung yang berdiri di tengah, kudengar sudah mati di kamp konsentrasi. Tak ada yang perlu ditangisi. Ini perang. Hanya darah yang boleh tumpah, bukan air mata.
Di belakang kami, padang rumput yang luas dan rumah kecil berpagar putih yang kini su…

A Gift for The Gift

Hidupnya masih berkutat antara tumpukan kertas, tembakau, mesin ketik dan bourbon. Tidak ada hidup yang jauh lebih hidup dari itu semua. Seperti dokter dengan pisau bedahnya, tidak, mungkin jauh lebih dari itu. Seorang dokter hanya berusaha agar sesuatu yang hidup tetap hidup, tapi dia berusaha agar yang mati menjadi hidup. Huruf seperti sel, kata adalah jaringan, kalimat menjadi organ, dan susunan kalimat memperutuh paragraf menjadikannya sebuah sistem organ, lengkap.
Sebuah hidup baru tercipta, dengan degupan jantung dari ketukan mesin ketik tua dan bourbon mengalir dalam nadi cerita. Nafas baru yang beraroma tembakau dihembus-hembuskan ke seisi ruangan. Sempurna.
Sam duduk di kursi kerjanya sambil memandangi garis hujan dari jendela kamarnya yang buram. Seattle selalu hujan, sepanjang tahun. Dapat dipastikan Pepsi dingin tidak akan laku dijual di sini. Langit kelabu, bumi tua.
Mendekati tengah malam, suara ketukan mesin ketik semakin intens, seolah-olah ingin bersaing dengan suara rin…

Cerita Tentang Saya dan Semua Hal yang Tidak Penting -1

Bukankah ini tragis? Saat saya sadar kalau saya hanya ingin menulis tanpa berkeinginan untuk menjadi penulis. Bermain-main dengan warna-warni pelangi dalam kepala yang kadang rewel, tanpa mengenal panas atau hujan tetapi tiba-tiba minta dituliskan atau saya terpaksa buru-buru menyalakan laptop untuk mengenang sahabat yang pagi-pagi mati tertungging, tenggelam dalam ampas kopi. Padahal bela sungkawa terdalam ada di hati, bukan hasil dari tak-tik-tuk keyboard dan loncatan kursor yang kadang bikin mata pedih.
Beberapa minggu terakhir tampaknya sangat menyenangkan, setelah saya sadar kalau saya hanya ingin menulis tanpa perlu menjadi penulis. Saya bisa semalaman ngobrol dengan gajah terbang yang belakangan jadi sering berkunjung ke kamar. Dia masih tetap berpipi tembam dan pantatnya semlohai, walaupun garis-garis halus pada matanya tidak bisa berbohong. Dia sudah tua-menurut pengakuannya dia berusia setua bumi-. Menjadi saksi peradaban dibangun dan runtuh, ikut berayun-ayun terbawa gelomba…