Langsung ke konten utama

Postingan

Sepatu Coklat Tua

Bukankah ini menyenangkan? Langit penuh jelaga, udara berbau mesiu dan tanah basah oleh darah. Serdadu mengaduh sendu, nafas di ujung leher, lupa akan doa-doa dan janji akhirat. Tuhan masih jauh. Tuhan masih jauh. Tuhan masih jauh.
Aku dorong-dorong gerobak yang berisi jasadku, di ujung tanjakan sebelum jalan bercabang menuju Maginot dan akhirat, kuparkirkan gerobak di sisi jalan yang sedikit berbatu. Sambil bersandar di roda gerobak yang kini tidak bulat utuh lagi, kurogoh saku kiri baju. Basah, di bagian ini ternyata aku tertembak, pantas saja aku meregang nyawa sebegitu cepat.
Foto keluarga; aku semasa hidup, istriku yang berambut warna tembaga tersenyum sambil memegang bahu si bungsu. Kabar mereka sekarang buram, seburam nasib bangsa ini. Si sulung yang berdiri di tengah, kudengar sudah mati di kamp konsentrasi. Tak ada yang perlu ditangisi. Ini perang. Hanya darah yang boleh tumpah, bukan air mata.
Di belakang kami, padang rumput yang luas dan rumah kecil berpagar putih yang kini su…
Postingan terbaru

A Gift for The Gift

Hidupnya masih berkutat antara tumpukan kertas, tembakau, mesin ketik dan bourbon. Tidak ada hidup yang jauh lebih hidup dari itu semua. Seperti dokter dengan pisau bedahnya, tidak, mungkin jauh lebih dari itu. Seorang dokter hanya berusaha agar sesuatu yang hidup tetap hidup, tapi dia berusaha agar yang mati menjadi hidup. Huruf seperti sel, kata adalah jaringan, kalimat menjadi organ, dan susunan kalimat memperutuh paragraf menjadikannya sebuah sistem organ, lengkap.
Sebuah hidup baru tercipta, dengan degupan jantung dari ketukan mesin ketik tua dan bourbon mengalir dalam nadi cerita. Nafas baru yang beraroma tembakau dihembus-hembuskan ke seisi ruangan. Sempurna.
Sam duduk di kursi kerjanya sambil memandangi garis hujan dari jendela kamarnya yang buram. Seattle selalu hujan, sepanjang tahun. Dapat dipastikan Pepsi dingin tidak akan laku dijual di sini. Langit kelabu, bumi tua.
Mendekati tengah malam, suara ketukan mesin ketik semakin intens, seolah-olah ingin bersaing dengan suara rin…

Cerita Tentang Saya dan Semua Hal yang Tidak Penting -1

Bukankah ini tragis? Saat saya sadar kalau saya hanya ingin menulis tanpa berkeinginan untuk menjadi penulis. Bermain-main dengan warna-warni pelangi dalam kepala yang kadang rewel, tanpa mengenal panas atau hujan tetapi tiba-tiba minta dituliskan atau saya terpaksa buru-buru menyalakan laptop untuk mengenang sahabat yang pagi-pagi mati tertungging, tenggelam dalam ampas kopi. Padahal bela sungkawa terdalam ada di hati, bukan hasil dari tak-tik-tuk keyboard dan loncatan kursor yang kadang bikin mata pedih.
Beberapa minggu terakhir tampaknya sangat menyenangkan, setelah saya sadar kalau saya hanya ingin menulis tanpa perlu menjadi penulis. Saya bisa semalaman ngobrol dengan gajah terbang yang belakangan jadi sering berkunjung ke kamar. Dia masih tetap berpipi tembam dan pantatnya semlohai, walaupun garis-garis halus pada matanya tidak bisa berbohong. Dia sudah tua-menurut pengakuannya dia berusia setua bumi-. Menjadi saksi peradaban dibangun dan runtuh, ikut berayun-ayun terbawa gelomba…

Pamit (Surat Buat Penjaga Roller Coaster)

Dua tahun ya? Atau mungkin lebih, atau mungkin juga kurang. Entahlah, sudah apkir isi kepalaku. Jangankan mengingat kapan kita bertemu, menebak catatan hutang kopi terakhir di warung dekat pengkolan saja sekarang aku tidak mampu, bukan karena terlalu panjang daftarnya, tapi lebih dikarenakan jalur darah yang tersumbat di balik batok kepalaku. Memang tidak terasa nyeri tapi lumayan bikin keder. Bayangkan saja, sekarang aku jadi bingung berapa jumlah batang rokok yang yang kuhisap setiap hari. Kalau dipaksa menghitung, maka aku harus menghisap batang rokok berikutnya supaya bisa berpikir dan itu malah jadi bikin hitungan batang rokokku tambah kacau. Tragis memang.
Waktu kita pertama kali bertemu, kamu selalu menyarankan supaya aku sering-sering naik roller coaster. Saat naik roller coaster dan tubuhku ditekuk hebat oleh gravitasi dan energi kinetik lalu meluncur hebat dari ketinggian jantungku ajojing gila-gilaan. Darah tersembur hebat, mengisi nadi terus membanjiri otak. Aku merasa hidu…

Cerita (Manusia/ Gajah) kepada (Gajah/Manusia)

ndsgdjk#%%%GJHJH^&&jhkk^*&(*))bkLJKK&(*)()(__

Siapa yang masih tertipu dengan bintang? Pasti semua masih, ya?
Coba tengadah malam-malam kalau langit sedang tidak mendung, ada ribuan jumlahnya, bukan, puluhan ribu, eh, malah mungkin jutaan. Indah? Tidak, merusak pemandangan malah, mirip ketombe yang berarakan merusak indahnya ‘rambut’ malam yang pekat.
Tapi aku tak mau bercerita lebih jauh tentang ‘ketombe’ itu? Ada yang lebih menarik yang mau aku ceritakan, masih berhubungan dengan ‘ketombe’ juga sih. Cerita ini tentang takdir.
Keren, ya. Jadi kejadian ini terjadi saat aku tidak sengaja tengadah malam-malam waktu mengangkat jemuran di balkon kontrakanku.
Entah karena aku yang sudah mengantuk atau karena  memang malam itu aku ketiban ‘jatah’ untuk mendapatkan ‘pencerahan’.
Tiba-tiba saja ‘ketombe-ketombe’ langit itu menyatu, menjadi besar, sebesar matahari, mungkin lebih, malam jadi terang, lalu ‘ketombe-ketombe’ itu meledak. Salah satu berkas cahayanya membentur keningku, dan sebuah ilham itu masuk begitu saja ke dalam benak. Memunc…

Trayek Baru

Trayek hidupku sudah jelas selama lebih dari sepuluh tahun ini. Jam tiga pagi, sebelum ayam-ayam tetangga di kandangnya bangun, aku sudah harus mandi, bukan untuk membersihkan tubuhku yang bau keringat karena tidur di dalam kamar pengap semalaman, tapi lebih untuk menyegarkan tubuhku, terutama mataku yang setiap hari tampaknya semakin kelelahan karena hanya diberi jatah untuk tidur tidak lebih dari lima jam.
Setelah mandi dan mematut diri ala kadarnya di depan cermin yang sudah mulai buram, aku pergi ke pasar yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumhaku. Bukan rumah, kurang layak sepertinya jika disebut rumah. Kata orang-orang pintar, rumah itu harus punya kamar mandi, kamar tidur, ruang tamu, dapur, nomor dan yang paling utama harus punya surat yang menerangkan kalau itu adalah rumah sehingga pemerintah bisa menagih jatahnya setiap tahun agar ‘rumah’ itu bisa tetap disebut rumah.
Sedangkan tempat yang aku tinggali -memang- hampir memiliki semuanya; kamar tidur, dapur, ruang tamu …